Tes DISC
DISC

DISC untuk Tim dan HR

Tes DISC paling sering diikuti bukan sendirian, melainkan bersama tim: untuk memahami mengapa rekan kerja bereaksi berbeda-beda, menyepakati aturan berkomunikasi, dan membagi peran dengan bijak. Halaman ini merangkum cara manajer atau HR mengadakan tes, membaca peta tim, dan membahas hasilnya tanpa melabeli orang.

Mengapa tim membutuhkan DISC

Sebagian besar gesekan di tempat kerja bukan soal kompetensi, melainkan soal gaya: yang satu ingin cepat memutuskan, yang lain ingin memeriksa dulu; yang satu bicara terus terang, yang lain menganggap terus terang itu kasar. DISC memberi bahasa bersama untuk perbedaan semacam ini: alih-alih “dia itu menyebalkan”, muncullah “D-nya tinggi, dia butuh jawaban singkat dan hasil”. Perbedaannya tidak hilang, tetapi tidak lagi dianggap sebagai rasa tidak suka secara pribadi.

Manfaat kedua adalah kejelasan harapan. Ketika setiap orang tahu bagaimana orang lain sebaiknya berkomunikasi dengannya, dan hal itu tertulis dalam laporannya, manajer tidak perlu menebak-nebak: siapa yang perlu diberi kebebasan, siapa yang butuh kriteria jelas, siapa yang perlu diberi tahu tentang perubahan jauh-jauh hari, dan siapa yang sebaiknya diberi ucapan terima kasih di depan umum.

Peta tim: apa yang ditunjukkan sebaran gaya

Kumpulkan profil para peserta dan perhatikan proporsinya. Tim yang mayoritas D cepat memutuskan dan berani mengambil risiko, tetapi sering bertengkar dan kurang mendengarkan mereka yang berhati-hati. Mayoritas I menghadirkan energi dan ide, tetapi tenggat dan detail jadi korban. Tim yang mayoritas S kompak dan dapat diandalkan, tetapi menghindari pembicaraan yang sulit dan menunda perubahan. Mayoritas C menjamin kualitas, tetapi keputusan berlarut-larut dan hal baru disambut dengan skeptis.

Kekosongan justru lebih penting daripada ketimpangan. Jika di dalam tim tidak ada satu pun C yang menonjol, tidak ada yang memeriksa dan merencanakan risiko; jika tidak ada I, tidak ada yang “menjual” ide ke luar dan menjaga semangat tim. Ini bukan alasan untuk mencari “tipe yang belum ada” saat merekrut, melainkan alasan untuk menutup celah itu secara sadar: tunjuk penanggung jawab pemeriksaan atau komunikasi, dan beri dia waktu untuk itu.

Situasi yang sering terjadi

Cara mengadakan tes untuk tim di situs ini

  1. Ikuti tesnya sendiri terlebih dahulu: dengan begitu Anda tahu apa yang akan dilihat peserta dan bisa menunjukkan contoh laporan.
  2. Kirimkan tautan situs dalam bahasa yang sesuai kepada rekan-rekan Anda. Tidak perlu mendaftar, dan tes hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit; laporan langsung muncul di layar, bisa disimpan sebagai PDF, dan tautan ke hasilnya bisa diteruskan kepada Anda.
  3. Minta setiap orang mengirimkan tautan hasilnya atau kode dari laporannya kepada Anda. Hasil hanya dapat dilihat oleh orang yang memiliki tautannya; tidak ada data yang otomatis terkirim kepada manajer.
  4. Buka panel admin (tautannya ada di bagian bawah situs) dan tempelkan kode-kode yang Anda terima. Panel akan menyusun tabel berisi nama, profil, dan skor; tabel itu bisa disalin ke Excel. Tabel hanya tersimpan di browser Anda.
  5. Jadwalkan pertemuan bersama: jelaskan keempat gaya, tampilkan peta tim, dan beri setiap orang kesempatan menceritakan bagian laporan mana yang tepat sasaran dan mana yang tidak.

Cara membahas hasil

Aturan pertama: hasil adalah milik peserta. Tidak ada yang wajib memperlihatkan laporannya, dan pembahasan dimulai dari apa yang diceritakan orang itu sendiri tentang dirinya. Aturan kedua: tidak ada gaya yang baik atau buruk. Setiap kali terdengar “D lebih cocok jadi pemimpin”, ingatkan bahwa setiap gaya punya harga yang harus dibayar dan bahwa tim membutuhkan keempat-empatnya.

Format yang praktis: satu permintaan dari setiap orang, dengan melengkapi kalimat “Saya terbantu ketika…” dan “Saya terganggu ketika…”. Kalimat seperti ini, yang benar-benar diucapkan dan dicatat, memberi tim lebih banyak manfaat daripada tipologi mana pun. Dua atau tiga bulan kemudian, tinjau kembali kalimat-kalimat itu dan periksa apa yang sudah berubah.

Rekrutmen dan psikotes: di mana batasnya

Di Indonesia, DISC kerap menjadi bagian dari psikotes saat rekrutmen, sehingga banyak yang mengenalnya sebagai psikotes DISC. DISC memang cocok dipakai dalam wawancara sebagai bahan pembicaraan tentang gaya kerja dan sebagai petunjuk pertanyaan apa yang perlu diajukan: misalnya, bagaimana kandidat dengan C tinggi menghadapi ketidakpastian. Namun, keputusan menerima atau menolak kandidat tidak boleh diambil berdasarkan profil: metode ini menggambarkan preferensi perilaku, bukan kompetensi, motivasi, pengalaman, atau kesesuaian dengan jabatan, dan gaya apa pun bisa berhasil di hampir semua peran.

Satu catatan soal etika: kandidat sebaiknya diminta mengikuti tes hanya bila disertai penjelasan untuk apa tes itu dan siapa yang akan melihat hasilnya. Tes ini bukan alat diagnostik, dan memakainya untuk menggugurkan kandidat berarti kehilangan orang-orang yang baik dan mempertaruhkan reputasi.

Kesalahan yang perlu dihindari

Apa itu DISC → · Empat gaya → · 16 profil → · Cara membaca hasil → · Kecocokan gaya → · Warna DISC → · DISC dan MBTI → · Tes DISC PDF → · Tanya jawab →

Ikuti tes